PENETAPAN
SECARA KLINIS KADAR GLUKOSA DALAM SERUM MANUSIA
DENGAN
BIOSENSOR KULIT TOMAT
A.
Latar
Belakang
Penentuan yang cepat dan tepat kadar glukosa darah merupakan
hal yang penting dalam tahap diagnose dan manajemen pengelolaan diabetes. Oleh
karena itu, banyak sensor telah dikembangkan dan diperkenalkan untuk pemantauan
glukosa darah.Penderita Diabetes Melitus di seluruh dunia menderita akibat
kekurangan insulin, yang harus dikontrol dengan memantau glukosa darah dan
menyuntikkan insulin sesuai dosis harian.
Beberapa tahun terakhir, berbagai membran telah dikembangkan
dan diuji untuk menjebak enzim, sehingga diharapkan aktivitas
enzim stabil (baik) dan pasien
untuk terapi gejala Diabetes Melitus memerlukan penilaian yang akurat terhadap
level glukosa darah untuk tiap beberapa interval waktu.
Dalam penelitian ini, kulit tomat memiliki kemampuan yang
baik dalam kesesuaiannya sebagai biosensor, dan sifatnya porinya yang dapat
ditembus oleh udara dan air.Hal ini dapat dimanfaatkan sebagai media pergerakan
enzim yang ideal dalam pembuatan
biosensor berbasis enzim untuk menghasilkan biosensor sehingga data yang diperoleh akurat dan respon yang cepat.
Pada umumnya digunakan tipe elektroda Clark untuk mendeteksi perubahan konsentrasi oksigen selama
konversi enzimatik.Pada penelitian ini dapat digambarkan bahwa sistem analisis amperometri dimanfaatkan
untuk penetapan kadar glukosa yang cepat dan akurat pada serum manusia
menggunakan biosensor berdasarkan enzim glukosa oksidase yang dijebak pada media kulit tomat dengan
elektroda oksigen terlarut.
B.
Dasar
Teori
1.
Enzim
Glukosa Oksidase (GOD)
β-D-glukosa:oksigen
1-oxireduktase, EC 1.1.3.4 merupakan jenis flavoprotein yang
mengkatalis reaksi oksidasi dari beta-D-glukosa oleh molekul oksigen. GOD dihasilkan dari
jamur Aspergillus Niger dan Penicillium yang bekerja spesifik mengkatalisis oksidasi β-glukosa.
Hasil oksidasi ini adalah glukonolakton dan hidrogen peroksida (H2O2).
Pada tahap selanjutnya, senyawa glukonolakton ini akan dihidrolisis
menjadi asam glukonat (Wang, 2008:2049).
Secara garis besar, enzim ini akan menghasilkan hidrogen peroksida dalam
setiap reaksi yang dijalankannya. Reaksi enzimatis glukosa oksidase digambarkan
sebagai berikut :
|
Glukosa oksidase
|
Glukosa + O2 + H2O --------------------> O-glukono-δ-lakton + H2O2
H2O2-------------------->2H
+ O2 +2 e−
Skema Reaksi enzim yang terjadi (Wang,
2008:2047)
2. Immobilisasi Enzim
Reaksi enzimatis yang teramobilisasi telah terbukti sebagai teknik
yang efisien dalam beberapa aplikasi.Suatu biokatalis dikatakan teramobilisasi
jika mobilitasnya dibatasi dengan perlakuan fisika atau kimia.Menurut Susanto (2003),
beberapa keuntungan yang diperoleh dari enzim yang teramobilisasi adalah
a.
Perolehan kembali enzim (enzyme recovery)
b.
Pemisahan enzim dari substrat dan produk lebih
mudah
c.
Stabilitas enzim meningkat
d.
Biaya operasional lebih rendah
Imobilisasi enzim didasarkan
pada lokalisasi enzim dalam kisi dari matriks polimer
atau membrane. Hal ini dilakukan sedemikian rupa
untuk mempertahankan aktivitas enzim dalam proses penetrasi substrat.
Tahap desain dan preparasi merupakan kunci untuk membuat sebuahbiosensor sehingga diharapkan enzim tetap
berada dalam keadaan stabil dan mudah untuk bereaksi dengan substrat. Pilihan
teknik penjebakan enzim sangat penting dalam hal stabilitas
jangka panjang biosensor. Teknik yang dipilih harus sesuai dengan karakteristik
dari enzim dan substrat yang digunakan. Teknik yang tidak sesuai akan dapat
mengurangi aktivitas enzim dan menghasilkan respon sensor yang rendah (Aziz, 2006:15).
Beberapa teknik yang digunakan dalam penjebakan enzim adalah
a.
Penjebakan
(Entrapment)
Penjebakan enzim didasarkan
pada lokalisasi enzim dalam kisi dari matriks polimer
atau membran. Hal ini dilakukan sedemikian rupa
untuk mempertahankan aktivitas enzim dalam proses penetrasi substrat.
Gambar 1. Ilustrasi penjebakan enzim (Enzyme
Entrapment) dalam kisi matriks.
Teknik penjebakan ini diaplikasikan pada
sensor type clark, sehingga ada hubungan
yang erat antara enzim dan transduser, dan dapat memberikan stabilitas
yang baik pada perubahan suhu, pH, dan konsentrasi substrat.
b.
Adsorpsi
Gambar 2. Ilustrasi
teknik adsorpsi dalam penjebakan enzim (Enzyme
Entrapment).
Banyak
zat/partikel dapat menyerap enzim pada permukaannya, namun perlu dilakukan
suatu reaksi kimia maupun fisika pada permukaan tersebut sehingga dapat
memaksimalkan proses penjebakan. Keuntungan yang diperoleh dari teknik adsorpsi
ini adalah penggunaan reagen yang minimal dan waktu preparasi yang singkat.
Namun, adsorpsi enzim rentan terhadap perubahan suhu, pH, polaritas, dan konsentrasi substrat sehingga enzim akan kehuilangan stabilitasnya
(Aziz, 2006:17).
c.
Ikatan
Kovalen
Ikatan kovalen langsung terbentuk
antara enzim dan bahan pendukung. Ikatan kovalen merupakan
ikatan kimia yang kuat sehingga mengakibatkan stabilitas enzim yang
teramobilisasi menjadi lebih kuat. Akibatnya aktivitas enzim tetap terjaga
walaupun terdapat gangguan seperti tingginya konsentrasi substrat atau gangguan
dari larutan buffer dengan kapasitas ion besar. Namun, aktivitas enzim optimal
tidak dapat dicapai bila proses penjebakan enzim tidak dilakukan dengan benar
dibawah kondisi kontrol dari enzim yang digunakan (Ghous, 2001:2).
Gambar 3. Ilustrasi teknik ikatan kovalen
dalam penjebakan enzim (Enzyme Entrapment).
d.
Ikatan Silang
Teknik ikatan silang ini merupakan teknik penggabungan antara enzim yang
satu dengan yang lain membentuk suatu struktur 3 dimensi. Reaksi ini dapat
dilakukan dengan reagen pereaksi seperti gluteraldehyde, bis-diazobenzidine and
asam 2,2-disulfonat.
Dalam teknik
ikatan silang ini,enzim berikatan
silang dengan glutaraldehid untuk
membentuk suatu molekul terlarut, ikatan
silang pada enzim dapat
terjadi setelahimpregnasi bahan pendukung berpori
dengan larutan enzim.
Teknik ini
dipilih sebagai metode yang tepat dalam menstabilkan aktivitas enzim. Reaksi
ikatan silang yang terjadi dapat menyebabkan perubahan signifikan dalam
situs aktif enzim, sehingga uji aktivitas harus dilakukan
untuk memastikan bahwa situs aktiftetap bebas dan tersedia
untuk aktivitas katalitik enzim (Aziz, 2006:19).
Gambar 4. Ilustrasi teknik ikatan
silang dalam penjebakan enzim (Enzyme
Entrapment).
3. Biosensor
Perkembangan teknologi
pengukuran gula darah sebagai berikut (Aziz, 2006:21):
Prototipe biosensor pertama
adalah elektroda enzim yang dilaporkan pada tahun 1962,
memanfaatkan amobilisasi enzim GOD pada elektroda pt O2 tipe Clark untuk mengukur konsentrasi glukosa dalam larutan. Prototipe elektroda enzim ini kemudian menjadi dasar pengembangan elektroda enzim dalam analisis glukosa komersial pertama.
memanfaatkan amobilisasi enzim GOD pada elektroda pt O2 tipe Clark untuk mengukur konsentrasi glukosa dalam larutan. Prototipe elektroda enzim ini kemudian menjadi dasar pengembangan elektroda enzim dalam analisis glukosa komersial pertama.
Biosensor yang baik setidaknya harus mengikuti beberapa persyaratan berikut
(Aziz, 2006:10) :
1. Biokatalis harus sangat
spesifik untuk tujuan analisis,stabil di bawah
kondisi penyimpanan normal dan menunjukkan stabilitas baik pada jumlah tes lebih besar dari 100.
2. Reaksi tidak
terpengaruh oleh pengadukan, perubahan pH dan suhu yang dapat diantisipasi
lebih dahulu.
3. Respon harus
akurat, tepat, reprodusibel dan linier pada rentang analisis yang
ditetapkan.
4. Jika biosensor yang
akan digunakan untuk pemantauan secara klinis,
harus tidak memiliki efek toksik atau antigen.
harus tidak memiliki efek toksik atau antigen.
Fungsi
untuk mendeteksi atau memonitor kondisi berbagai hal misalnya,
1.
Mengukur tingkat keasaman (pH)
2.
Kontrol polusi
3.
Mendeteksi & mengukur kadar mikroba/zat
kimia berbahaya tertentu, toksik
di udara,
air, dan tanah; mis.pestisida
4.
Penentuan BOD (biological oxygen demand)
5.
Penentuan parameter kualitas pada susu
6.
Mendeteksi & mengukur : kadar glukosa,
kolesterol, tekanan darah, flu dll
7.
Diagnosis untuk : obat, metabolit, enzim,
vitamin
8.
Penyakit infeksi, alergi.
9.
Studi efisiensi obat
Biosensor
bersifat spesifik, karenabioreseptornya spesifik hanya klop/cocokuntuk suatu
substansi/zat/mol yangspesifik. Komponen dasar biosensor adalah
1.
Biokatalis/bioreseptor, komponen biologis
misalnya enzim, jaringan, organel, protein, sel dll.
2.
Transduser, komponen detektor,
yang bekerja secara fisika kimia, elektrokimia yang mengubah sinyal yang
dihasilkan dari interaksi antara analit dengan biokatalis menjadi sinyal lain
yang dapat lebih mudah diukur dan dihitung.
3.
Elemen elektronik, prosesor sinyal yang menghasilkan data sinyal sesuai metode elektrokimia
yang digunakan.
4. Amperometri
Prinsip
kerjanya adalah mengukur besarnya arus yang dihasilkan dari reaksi elektrokimia
melibatkan analit, sehingga arus yang timbul sebanding dengan konsentrasi
analit, sehingga perubahan analit yang kecil dapat terdeteksi.
Aplikasi
penting dari amperometri adalahdalam konstruksi sensor kimia. Salah satu
sensor amperometri pertama
yangdikembangkan adalah untuk pengukuranoksigen terlarut dalam darah
yangdikembangkan pada tahun 1956 oleh LC.Clark.
Elektrode oksigen mendeteksi
konsentrasi oksigen terlarut dalam analit dari proses reduksi pada katoda Pt.
Perbedaan tegangan antara katoda dan anoda pada tegangan input 600mV, sehingga menyebabkan oksigen yang berada pada
sistem akan tereduksi. kuantitas oksigen
yang tereduksi bergantung pada difusi analit pada membran. Arus listrik yang
terjadi pada elektroda adalah sebanding dengan konsentrasi oksigen dalam
analit.
Gambar 5.
Penampang elektroda amperometri tipe Clark
C.
Bahan
dan Metode Kerja
Enzim
glukosa oksidase bersifat terjebak
(teramobilisasi) pada perrmukaan dalam dari kulit tomat segar. Enzim –
membrane diposisikan pada permukaan dari
sensor oksigen terlarut. Proses deteksi didasarkan pada reaksi enzimatik glukosa
yang menginduksi pengurangan oksigen terlarut dalam larutan. Penurunan tingkat
oksigen terlarut teramati sebanding dengan kadar glukosa dalam sampel.
Preparasi
membran kulit tomat:
1.
Kulit tomat segardikupas dengan hati-hati dan
isinya dibuang.
2.
Cuci kulit tomat dengan air deionisasi.
3.
100 µL larutan 5 mg/ml enzim glukosa
oksidase, disuntikkan ke atas permukaan kulit tomat dan biarkan mengering.
4.
50 µL larutan glutaraldehide 5% sebagai
reagen ikatan silang diteteskan sedikit demi sedikit ke membrane.
5.
Setelah 2 jam, cuci membrane dalam buffer fosfat
(0.20 mol/L, pH 6.5) untuk menghilangkan kelebihan glutaraldehide.
6.
Setelah proses pencucian, simpan membrane pada
suhu 4oC dan terlindung dari cahaya.
Sifat membran kulit tomat :
1.
Kulit
tomat yang berpori memungkinkan difusi cepat dari molekul kecil seperti O2.
2.
Tidak
ada persyaratan khusus yang diperlukanuntuk kulit tomat. Semua
jenis tomat dapat digunakan.
3.
Kulit
tomat bersifat mudah sobek sehingga penempatannya pada elektroda dilakukan
dengan perlahan.
4.
Ketebalan
kulit tomat yang diharapkan 100 – 500 µm.
5.
Aktivitas
enzim yang terjebak pada kulit tomat stabil pada suhu 4oC.
Prosedur
Kerja :
1.
Glukosa oksidase – membrane kulit tomat
ditempatkan diatas permukaan elektroda oksigen Pasco CI-6542 (Pasco Scientific)
dan elektroda diposisikan tetap dengan menggunakan cincin penyangga.
2.
Elektroda enzim di rendam dalam 5 mL
buffer fosfat 0.20 mol/L pH 6.5 sambil di aduk.
3.
Konsentrasi glukosa yang terukur didasarkan pada
perubahan oksigen terlarut dalam buffer.
4.
Studi ini terdiri atas 300 relawan dalam keadaan puasa pagi (8 jam), yang sedang melakukan rawat jalan di klinik Rumah
Sakit Chengdu Pertama Rakyat (Chengdu, Sichuan, PR China).
5.
Sample darah disentrifuge dengan kecepatan 1252
selama 4 menit untuk memisahkan serum.
6.
1 mL supernatan ditambahkan dengan 4 mL buffer
fosfat 0.20mol/L pH 6.5.
7.
1 mL campuran larutan (6) di injeksikan kedalam
5 mL larutan buffer dimana terdapat elektroda enzim.
D.
Hasil
dan Pembahasan
Evaluasi linearitas dari biosensor, beberapa konsentrasi glukosa berbeda
disiapkan untuk pembuatan kurva standar.Respon
yang terukur dari biosensor untuk level glukosa 10 – 30 mmol/L menunjukkan
hubungan linear Y = aX + b à DO = 0.188*(glucose) –
0.0331, dengan r2 = 0.9986. LOD 0.20 mmol/L.
Gambar 6. Kurva linier regresi
untuk biosensor 1,0-30,0 mM glukosa dan Respon khas
dari biosensor pada serum dengan adisi glukosa pada konsentrasi
(1) 3,07, (2) 4,61, dan
(3) 7.63mM.
Berdasarkan membran glukosa oksidase kulit tomat, metode baru sistem kontrol glukosa darah dirancang.Biosensor dirancang untuk
pengukuran cepat glukosa darah 6 sampai 8 detik dengan konsentrasi dalam
rentang yang lebih luas 1 – 30 mmol/L.Glukosa dalam sampel darah yang terukur
berada pada rentang 3.07 – 29.31 mmol/L, sehingga dapat disimpulkan penelitian
ini cukup untuk merepresentasikan pasien diabetes dalam populasi yang lebih
besar.
Gambar 7. Perbandingan tingkat
kesalahan dari pengukuran glukosa dengan biosensor kulit tomat dan
Hitachi Analyser Glucose
Dari gambar 7 menjelaskan bahwa tingkat kesalahan analisis dari dua metode yaitu
biosensor kulit tomat dan Hitachi Analyser Glucose pada sampel darah jenis serum
terdapat beberapa zona kesalahan.
a.
Zona A, hasil pengukuran akurat;
b.
Zona B, menyimpang dari metode
referensi sebesar 20% tetapiakan menyebabkan kesalahan pengobatan ringan;
c.
Zona C, menyimpang darimetode
referensi sebesar 20% dan akan mengakibatkan kesalahan
pengobatan ringan;
d.
Zona D, berpotensi berbahaya dan menyebabkankegagalan
untuk mendeteksi dan mengobati konsentrasi glukosa
darah diluar jangkauantarget yang diinginkan;
e.
Zona E, akan
mengakibatkan pengobatan yang keliru.
Pengujian stabilitas biosensor telah dilakukan dengan menambahkan 8
mmol/L larutan glukosa ke dalam larutan buffer. Signal sangat stabil sebelum
dan sesudah injeksi glukosa 8 mmol/L selama 83 menit. Stabilitass biosensor akan dievaluasi setiap 6
bulan. Tingkat presisi pada beberapa variasi konsentrasi glukosa menunjukkan
hasil yang baik dengan RSD <2%.
Glukosa oksidase biosensor dapat diaplikasikan untuk menentukan
konsentrasi glukosa dalam serum manusia, yang memiliki keuntungan kemudahan dalam tahap preparasi, waktu respon
yang cepat, murah, dan sensitivitas yang tinggi.
Daftar
Pustaka :
1. Aziz, Dr. Azila Abdul., Production of
Enzymatic Glucose Biosensor. 2006. Pusat Pengurusan Penyelidikan. Universiti
Teknologi Malaysia.
2. Aziz, Dr. Azila Abdul., Optimizing of The
Enzyme immobilizion for Amperometric Glucose Biosensor. 2006. Pusat Pengurusan
Penyelidikan. Universiti Teknologi Malaysia
3. David
Falk., Amperometric Oxygen Electrode.1997. Bioanalytical System West Lafayyete
4. Ekosari.,
Biosensor untuk Bioteknologi. 2010
5. Ghous, T., Analytical Application of
Immobilised Enzyme. 2001. Kotli Kashmir
6. Han
H, Li Y, Zhou Z., Clinical Determination of Glucose In Human Serum by Tomato
Skin Biosensor, 2008. Clinica Chimica Acta
7. Wang
Y, Xu H., Electrochemical Sensor for Clinical Analysis, 2008. Sensor Journal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar